Kue Yang Terbagi

Satu sore di rumah seorang tetangga .

Sebungkus kue terbagi untuk lima anak. Rata. Masing-masing dapat lima. Saya adalah salah satu dari kelima anak itu. Tampak riang anak-anak menerima kue itu, termasuk saya juga. .

Kue itu oleh-oleh khas dari seorang perantau di ujung barat pulau Kalimantan yang sedang pulang kampung halaman. Bukan semata perihal rasa, tapi unik dan asinglah yang membuat kue itu membawa kesan bangga dan riang tersendiri. .

Selesai dibagikan, setiap anak pulang. Kue mereka kantongi ada juga yang dibawa dengan digenggam. Saking takutnya terlepas, saya lapisi kue itu dengan plastik, baru saya masukkan ke dalam saku celana. Usia saya masih 8 tahun, duduk di kelas 2 kala itu. .

Masih dengan perasaan riang campur tidak sabaran, saya segera pulang – berlari – sambil nyusun skenario untuk memamerkan kue itu ke kakak. Kami terpaut 7 tahun usianya. .

Dengan nada penuh keyakinan, pasti kakak akan iri “Mbak lihat, aku punya kue enak. Tapi mbak ga boleh minta yo”, sambil merogoh kantong saku celana tetap kegirangan melanjutkan cerita, “aku diparingi (jawa : dikasih) kue Pakdhe Mur yang baru sampai dari Kalimantan sana”. Semasa kecil saya termasuk anak yang tidak mau berbagi, terlebih ke kakak sendiri. .

Kanan kiri, kantong baju dan celana semua kosong. Ga ada apa-apa. “Lhaaaah, ilang mbak”, seruku tercampur air mata”, saya nangis sesengukan. .

Kakak yang duduk santai di depan buku PR nya tertawa renyah, “tuh, makanya, punya apa-apa itu harus berbagi”, tapi saya saat itu belum paham benar apa yang kakak jelaskan. .

Nasehatnya :
Bahwa yang kita punya belum tentu sepenuhnya untuk kita. Ada hak orang lain juga yang dititipkan ke kita agar menyampaikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *