Presiden Merah Muda

Dan Brown dalam Inferno (2013) mengisahkan perjalanan Langdon yang tengah lari dalam perburuan. Ia dikejar, ditembak, seolah berbagai pihak menyatukan kekuatan untuk membunuhnya. Dalam masa pengejaran itulah impuls dan bayangan-bayangan kematian sering ia rasakan. Tentang Inferno, bentuk neraka dan arwah-arwah di dalamnya. Mengulas luas dan tajam.

Salah satu penggambaran yang cukup membekas adalah ketika Langdon berusah keras untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi. Maka ia mengakses internet dan mengetikkan namanya “Robert London”, yang mana tindakan itu sangat ia larang kepada mahasiswanya agar mahasiswa didikannya jauh dari titik gila kemasyhuran .

Kemudian saya terpantik, sepertinya sudah cukup lama tidak mengetikkan nama sendiri di search engine. Done. Saya ulangi kebiasaan pencarian diri kali ini,

 

dan #PresidenMerahMuda yang tampak keluar paling awal. Ini hashtag yang sempat saya ramaikan secara independen. Oleh saya sendiri, dari saya sendiri dan untuk publik. Saya ramaikan media-media sosial yang saya punyai kalau itu, paling masif yaa di twitter. Sampai-sampai bertekad mengkompilasikan dalam sebuah buku.

Kala itu tahun 2014, tepat beberapa waktu jelang pilpres seperti saat ini. Menggebu sangat dengan hashtag tersebut. Aroma nafas gerakan mahasiswa masih melekat kuat disetiap pikiran saya (kala itu). Saya harus mampu beropini dan memberikan pencerdasan kepada publik. Indonesia harus dipimpin oleh Presiden yang gentle, bukan merah muda. Itu poin pentingnya.

Presiden Merah Muda saya di 2014 lalu masih setengah jalan. Narasi saya belum tertuntaskan. Saya terlena oleh pekerjaan, kala itu. Hingga di 2019, saat pilihan presiden sudah kembali ke depan mata – narasi saya sudah hilang. Saya terlena oleh kenyataan. Miris bahkan terdengar tragis memang. Tapi percayalah, meski tidak bernarasi seperti 5 tahun lalu, saya tetap memiliki kepedulian berpolitik, saya anak bangsa yang menjunjung tinggi kemerdekaan berpolitik dan kesempatan berpeduli politik untuk nasib ke depan negara.

Meski dengan cara sekarang yang berbeda

 

Erna, 18 Februari 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *