MENYERUKAN ITU MEMBERI RUANG

Foto: Google

Dinasehatkan oleh Rasul, seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”. Tetapi banyak orang yang belum pernah memikirkan breakdown dari ‘menyampaikan walau satu ayat’ tersebut. Mungkin saya pun juga termasuk ke dalamnya.

Satu ketika, di perjalanan rapat persiapan kegiatan. Waktu shalat sudah menunjuk di jam maghrib. Stang motor lantas saya belokkan di pelataran masjid dekat kecamatan setempat. Kecamatan Sine, Ngawi.

Masjid yang benar-benar termakmurkan. Itu gumam saya dalam hati saat menyeksamai adanya banyak jamaah laki-laki dan perempuan memadati masjid. Masha Allah.

Bada shalat maghrib, sang imam memandu dzikir sejenak lantas membacakan kitab pengantar tausiyah. Menutur satu kisah yang teramu indah dalam hadist.

Dari Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menceritakan tentang seorang lelaki (dari Bani Israil). Lelaki itu berkata (dalam hatinya), “Sungguh saya akan memberi satu sedekah (pada malam ini), maka ia keluar membawa harta sedekahnya, lalu (dengan diam-diam) ia letakkan sedekahnya itu di tangan seorang pencuri  (tanpa ia ketahui bahwa orang itu pencuri). Pagi harinya orang-orang ramai membicarakan bahwa  seorang pencuri telah diberi sedekah (tadi malam). Maka lelaki itu berkata, “Allahumma lakal hamdu (Ya Allah! Bagi-Mu segala puji. Sedekahku telah jatuh ke tangan seorang pencuri).”

(Pada malam kedua ia berniat lagi) katanya, “Aku akan memberi sedekah lagi.” Maka ia pu keluar membawa sedekahnya, lalu (dengan diam-diam) ia meletakkannya di tangan seorang wanita pelacur (tanpa ia ketahui bahwa wanita itu pelacur). Pagi harinya orang-orang pun  ramai membicarakan bahwa seorang pelacur telah diberi sedekah (tadi malam). Maka lelaki itu berkata, “Allahumma lakal hamdu (Ya Allah! Bagi-Mu segala puji. Sedekahku telah jatuh ke tangan seorang pelacur).”

(Pada malam ketiga ia pun berniat lagi) katanya, “Aku akan memberi satu sedekah.” Maka ia keluar membawa sedekahnya, lalu (dengan diam-diam) ia meletakkannya di tangan orang kaya (tanpa diketahuinya bahwa ia orang kaya). Pagi harinya orang-orang ramai membicarakan bahwa orang kaya telah di diberi sedekah (tadi malam). Maka lelaki itu berkata “Allahumma lakal hamdu (Sedekahku telah jatuh ke tangan) seorang pencuri,pezina dan orang kaya).”

Kemudian ia dimimpikan oleh seseorang bahwasanya dikatakan padanya, ‘(Sedekahmu telah diterima). Adapun sedekahmu pada seorang pencuri, maka karenanya ia telah berhenti dari perbuatan mencurinya; adapun sedekahmu pada seorang pelacur, maka karenanya ia telah berhenti dari perbuatan lacurnya; dan adapun sedekahmu pada orang kaya, maka karenanya ia telah mendapat pelajaran sehingga ia pun mulai menginfakkan harta yang telah dikaruniakan Allah kepadanya (di jalan Allah)’.” (HR. Bukhari).

Hikmah dari kisah tersebut adalah bahwa keikhlasan dan ketulusan niat tidak akan pernah luput dari perhatian Allah SWT, walau banyak manusia yang tak dapat melihatnya.

Dari Tsauban ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Beruntunglah orang-orang ikhlas. Mereka adalah pelita-pelita dalam kegelapan malam, dan segala fitnah dan kedzaliman akan hilang dari mereka’.” (HR. Baihaqi).

Lagi-lagi masha Allah, iman dan hati manakah gerangan yang tidak merasai kesejukan atas siraman ruhani demikian? Saya tidak hendak membahas lebih detil tentang konten dan terjemah dari hadist tersebut. Namun tentang cara imam menyampaikan pesan nasehat kepada jamaah. Disampaikan dengan simpel, pokok, tidak melebar. Hingga saya, sebagai salah seorang jamaah saat itu saya benar-benar dibuat paham dan langsung hafal konten dari hadist tersebut.

Lantas ekspektasiku mulai melambung, ketika setiap masjid bisa mendakwahkan satu ayat saja waktu selesai magrib saja – maka pastilah pemahaman dari jamaah akan meningkat dan insya Allah keimanan jamaah pastilah meningkat pula. Semoga. Wallahu’alam bish showab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *