Review Buku Teh dan Penghianat

Judul: Teh dan Penghianat
Penulis: Iksaka Banu
Terbit & Cetakan: April 2019
Penerbit: (KPG) Kepustakaan Populer Gramedia
Jumlah Halaman: 164

Mengambil pilihan genre tulisan fiksi sejarah kolonial bukanlah perkara mudah. Porsi penuturan berimbang antara fakta sejarah dan sentuhan fiksi harus proporsional. Kepiawaian seperti inilah yang tidak dimiliki oleh kebanyakan penulis. Sedangkan Iksaka Banu dalam Kumpulan Cerpen Teh dan Penghianat ini seperti buku sebelumnya, Semua untuk Hindia. Lagi-lagi mampu menghadirkan ulang masa pendudukan Belanda di masa penjajahan Hindia-Belanda.

Pengambilan tutur cerita penulis sebagai orang pertama dan berlatar belakang orang Nederland Totok maupun Mestizo mampu mengenalkan kepada pembaca bagaimana budaya dan kehidupan politik maupun sosial masyarakat yang terjadi kala itu. Sehingga ketigabelas cerita pendek dalam buku Teh dan Penghianat ini sesuai dengan hadapan penulis yang ingin memperkenalkan pada generasi muda agar tertarik pada sejarah yang kaya dan penuh warna.

Beberapa cerita yang disampaikan oleh Iksaka Banu menjelaskan pada pembaca dari perspektif tokoh-tokoh Belanda. Bersamaan dengan muatan pesan moral, kemanusiaan, perjuangan, tanggungjawab, empowerment, taktik dan strategi hingga dunia hitam skandal prostitusi yang tampak bersih karena kekuasaan.

Kalabaka, sisi kemanusiaan diangkat dalam cerita ini. Mengangkat fakta sejarah terkait pembantaian orang-orang Banda Neira di Maluku termasuk para kalangan pribumi kaya juga tak luput dari pembantaian, Kalabaka Maniasa menjadi salah satu tokoh yang turut dipenggal oleh samurai sewaan Belanda yang merasa terancam keberadaan mereka di Banda Neira.

Tegak Dunia – Fanatiknya bumi tidak bulat oleh kalangan agamawan di sebuah panti yang menentang pelaut dan bagaimana perjalanan globe untuk dapat diterima dan disetujui masyarakat masa itu.

Teh dan Penghianat – Core cerita dari judul buku ini yang digadang sebagai kisah perjuangan dan perlawanan buruh China di yang dipekerjakan di perkebunan Teh milik Belanda. Mereka menuntut pembayaran upah yang sewajarnya dan hukuman yang terlalu menyiksa. Namun kecerdikan Belanda menata siasat dalam kondisi demikian, pasukan pribumi dijadikan garda untuk melawan pemberontakan yang China lakukan.

Variola, tentang tanggungjawab moril yang dilakukan Belanda untuk membantu mencari vaksin atas wabah kolera yang dialami masyarakat Hindia-Belanda secara meluas.

Kutukan Lara Ireng – Tentang perjalanan opium, pencegatan penyelundupan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk kemudian dijual lagi demi keberlangsungan kas negara.

Belenggu Emas – Pembatasan dari seorang suami (Theo) untuk Cornelia istrinya mulai dari hal kecil seperti berbusana hingga keteladanan agar wibawa sebagai seorang Belanda tidak turun di mata para jongos dan babu yang dimiliki. Hingga satu ketika ia belajar arti berdaya dan kebebasan ber produktivitas dari seorang wanita minang Rohana Kudus yang mengijinkannya mengisi ruang pendapat pembaca di surat kabarnya. Semata untuk melepaskan belenggu emas yang ia punya.

Nieke de Flinder – Tentang skandal dan pelacuran, bagaimana seorang tokoh elit politik tinggi yang senantiasa terbebas dari penangkapan dan berita miring tentang prostitusi padahal ia adalah pengguna jasa di dalamnya. Media tidak berani memberitakan karena ada omset yang dimiliki orang tersebut.

Indonesia Memanggil – berkisah tentang kisah mantan prajurit (Jannes Grisjman) untuk berbelok arah dalam pengabdian. Masih tetap mengabdi namun untuk kemanusiaan dan berangkat ke Jawa untuk membantu Indonesia setelah mendengarkan tutur kisah kalangan buruh yang membangkitkan rasa kepedulian seperti yang ia rasakan kala penjajahan Jerman.

Serta beberapa cerita lain yang keseluruhannya dikemas secara apik oleh Iksaka Banu. Selama membaca buku ini saya kadang berhenti dan berpikir, “hampir mirip dengan kondisi yang sekarang”, itu decak saya. Bagaimana dengan Anda? Selamat membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *