Lebaran di Serambi Mekkah

Selaku orang Indonesia (asli) kami sekeluarga termasuk ke kalangan yang menyatakan setuju dengan momen lebaran-mudik dan jalin kembali silaturahmi. So that why, pas memutuskan untuk tidak pulang lebaran tahun ini sedih sih, banget sedihnya .

Namun begitulah proses, untungnya sedih kami mulai berangsur berkurang. Ada banyak hal yang mampu menguatkan dan membesarkan hati kami sekeluarga di sini. Keluarga besar LRSAMPK Darussa’adah yang dari luar Aceh mayoritas juga tidak mudik, itu salah satu penguat kami. Jadilah kami di sini saling silaturahmi rumah ke rumah, mengemas nuansa biar kerasa seperti halnya di kampung halaman. Alhamdulillah kami bersyukur dan benar merasa terkuatkan .

Strategi menyiasati kesedihan selanjutnya adalah kami tidak banyak kontak dengan keluarga di kampung halaman, terlebih kontak secara face to face semisal video call. Biar kesedihan kami tidak tertransfer ke sana dan rasa bahagia tetap kami tularkan. Berharap semua adalah baik-baik saja. Pun kalau harus video call, seperlunya saja – kalau air mata sudah tidak bisa tertahan yaa HP diserahkan dulu ke suami/istri atau anak. Biar tidak ketahuan. Jangankan ke orangtua sendiri, ke Bapak dan Ibu mertua saja rasanya udah berat nahan air mata biar gak turun .

Sesedih itu yaa? Mungkin nanti akan ada yang membatin gitu kali ya? Ah gak juga, masing-masing kita punya kelekatan dan perasaan yang bisa jadi tak sama khan? Bersyukur lah untuk yang berlimpah rejeki dan bisa mudik dengan mudah, yang ditempatkan kerja masih satu pulau dengan keluarga besarnya. Kami bukan pelit untuk bersua dengan keluarga di momen lebaran, bukan. Tapi kami harus pakai logika matematika, kalau sekedar tiket perjalanan pulang dan pergi kami harus menghabiskan uang 20-30 juta, kami bisa apa? .

Kesedihan selanjutnya yang kemudian menjadi harapan adalah semoga Indonesia lekas memberikan kebijakan terbaik untuk maskapai penerbangan Indonesia. Kami optimis, negara ini bisa untuk menjadi lebih baik lagi. Berita baiknya, selama tiket penerbangan domestik mahal, mendingan kita k luar negeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *