MELAWAN FENOMENA LAPAR AYAH

Foto: ern

Figur seorang Ayah dalam pendidikan anak adalah penting. Menyeimbangkan bentuk pengasuhan yang dilakukan oleh sang Ibu, Ayah juga memiliki kendali untuk memberikan keteladanan, arah kemudi dan terlibat aktif dalam menyusun kurikulum sampai pelaksana program pendidikan bagi anak. Masanya sampai kapan? Selamanya. Namun utamanya adalah di periode emas (0-5 tahun) tumbuh kembang sang anak, yang mana di masa inilah anak sedang berada dalam aktivitas tingkat tinggi untuk membentuk karakter diri. Figur seorang Ayah dibutuhkan.
Mendudukkan kembali bahasan pada realita. Terbangun sebuah peradaban masyarakat yang meletakkan poros utama (bahkan nyaris satu-satunya) pengampu tugas mendidik adalah ibu. Hanya ibu, sedang ayah bertugas untuk menunjang perlengkapan yang dibutuhkan untuk kelancaran proses didik-asuh sang Anak.
Rerata di masyarakat menempatkan pengasuhan full diambil alih oleh ibu di masa 0-2 tahun, hingga di bangku pre school sampai elementary school pengampu proses pendidikan (guru) juga perempuan. Sampailah pada satu kondisi -minimnya interaksi anak dengan ayah atau dengan pihak laki-laki. Fenomena inilah yang kita kenal dengan Father Hunger/Fatherless.
Perlu adanya menghadapkan fenomena pada pesan sejarah. Seorang Rasulullah Muhammad SAW setelah Bundanya wafat pengasuhan diestafetkan juga kepada Kakek lantas berlanjut pada paman. Mereka laki-laki. Dalam al Quran dialog pengasuhan lebih banyak yang membincang antar anak dengan Ayah.
Berangkatlah kita dari kesadaran diri bahwa Ayah memiliki peran penting yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Father Hunger/Fatherless berdasar penelitian beberapa kalangan ahli menyebutkan akan membawa akibat yang tidak sedikit. Kurangnya kemampuan anak untuk beradaptasi, perasa, kepercayaan diri yang rendah, melencengnya orientasi seksual hingga susah mengambil keputusan adalah beberapa diantaranya.
Karena sungguh dari Ayah anak akan mempelajari bagaimana cita rasa sebuah keberanian. Ia akan mampu mendefinisikan apa itu tanggungjawab, dapat meniru dan akan terbiasa berpikir realistis. Terhadap lingkungan, kepekaannya juga semakin terasah. Jiwa kasih sayang serta kemauan untuk menghargai orang lain akan dimiliki.
Maka Ayah, libatkan anak dalam keseharianmu-dampingi ia dalam proses tumbuh dan berkembang. Maka ia akan belajar.
#InFrame : Yahya yang lagi memanja mumpung Ayahnya di rumah 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *