NGILONAN DHISIK, YES!*

Foto: @rsipIVAA

Serasi dan selaras adalah paduan unsur untuk membuat satu kondisi berada pada titik imbang. Seimbang. Seimbang itulah yang mengantarkan pada kesempurnaan.
Menyoal tentang perkiraan, persangkaan dan persepsi. Dominasi perasaan seringnya mengajak orang untuk memberikan penilaian atas satu hal. Menilai kemundian mempersangkai dan menyusun persepsi. Bahkan sampai menghakimi ‘ini salah – harusnya begitu’ – ‘ini betul – memang harusnya begini’. Wajar, itu semua ranah pendapat yang diberikan lisensi liberal untuk dikemukakan.
Namun sayangnya, lisensi liberalnya berpendapat seringkali memaksa pihak lain untuk menyetujui pendapatnya secara mutlak. Jadilah sucinya kebebasan berpendapat ternodai. Kaprahnya lagi kalau ternodai oleh pendapat yang mengedepankan nafsu tanpa pengendalian, yang menomorsatukan perasaan tanpa rasional, mendahulukan gosip berita daripada fakta.
Ada orang yang kaya raya, lantas menyekolahkan anaknya sampai pendidikan tinggi-tinggi disekolah ternama dikatai “itu orang glamour banget, harta juga belum tahu dari mana, dan seterusnya”. Ada juga orang ganteng-pinter nikah sama perempuan cantik pinter, dikomentari, “aduh, gak adil banget sih. Perfect kok sama perfect”. Terus giliran ada anak orang kaya, ganteng, pinter milihnya sama yang sederhana, cantik ga terlalu, pinternya juga ga terlalu, dikomentari lagi “Itu orang gimana, yang cantik pinter kan banyak, bisa-bisanya milih kayak gitu. Tidak hanya itu, ada orang yang berubah jadi baik, dikomentari. Jadi jahat, diomongin. Ada yang yang beli rumah dijadiin bahan rumpian, ada yang gak hamil-hamil digosipin. Duh banyak hal jadi snack renyah di tengah perbincangan. Semua hal bisa jadi bahasan.
Well, itulah. Dari dulu kita sudah pada tahu -gak ada yang sempurna-. Tapi lagi-lagi, orang selalu khilaf dan pura-pura melupa. Seolah diri kita bebas cacat, gak punya aib. Padahal aslinya, ada yang tengah kuat menjaga aib kita agar tak terbongkar saking sayangnya di sana. Tuhan.
Wis ta lah, ngilonan dhisik kono. (Sudah lah ya, bercermin dulu sana). Siapa kita dan siapa mereka. Semua ketetapan dan kejadian itu atas acc-persetujuan Tuhan. Selalu ada sebab yang memuarakan orang pada akibat. Selalu ada usaha yang mengantarkan orang pada hasil. Mereka yang beruntungpun pada hakikatnya tidak beruntung secara sukarela. Mereka beruntung itu akibat memanen buah kebaikan yang pernah mereka tumpuk sebelumnya.
Ngilonan dhisik, yes! Kalaupun sekarang kita belum bisa seperti mereka, bercerminlah. Kembali kita telaah, kembali kita baca. Apa yang sudah kita lakukan dan apa yang kita inginkan. Apa yang sudah mereka lakukan dan apa yang telah mereka dapatkan. Jangan biarkan irimu sekedar iri dan membuat hatimu makin terkotori.
Ngilonan dhisik, biar kita bisa cantik dan awet muda. Bisa bahagia melihat oranglain bahagia, turut sedih melihat yang lain dirudung kesedihan.
*ngilonan dhisik, yes! — bercerminlah dulu, yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *