AMANAH, MENGIMBANGI SANJUNGAN

Foto: Google

Satu waktu, di ruang tunggu bandara saya mutlak menjadi pengamat. Seorang ibu muda bersama seorang anaknya, usia 4 tahunan. Oh ternyata mereka tidak hanya berdua, ada seorang mbak-mbak yang tengah membawakan koper dan satu tas jinjing. Ketiganya duduk tepat di depan saya. Beraktivitas standar layaknya calon penumpang lain. Sang ibu duduk sembari bergadget, sang anak tengah asyik bermain bersama mbak pembawa koper. Keduanya menepi.

“Mbak sini sebentar”, pinta sang ibu. Diajaklah sang anak untuk foto, berdua. Ibu dan anak yang tampak mesra. Satu dua jepretan, sudah. Sang anak dikembalikan lagi pada sang mbak.

“Temenin mainan dulu adek ya, Mbak”, terus sang ibu.

Ada anggukan sopan teriring senyum. Anak dan mbak pembawa koper lantas lari bekejaran, tampak riang kegirangan. Hanya sedikit menatap perbedaan, raut wajah riang sang anak beda. Beda saat diminta foto bersama ibunya dan saat bersama mbak pembawa koper.

Aktivitas keduanya sudah tak sampai dari pandangan, mata tertuju pada sang ibu yang duduk tepat di depanku.

Tersenyum manis dan tampak cantik, ia tengah keasyikan mengunggah foto mesranya bersama sang anak di akun media sosialnya. Aduhai, bukan maksud mata untuk jelalatan menerjang pandang. Tapi kalau sudah berkaca, mataku terlalu detil menatap fakta.

Tetiba ada seorang laki-laki datang, selang 3 tahunan mungkin dari sang ibu. Dia menyapa datar, dan menanyakan keberadaan sang anak. Tampak cepat namun terkesan gagap, sang ibu mematikan gadget dan memasang wajah lelah dicampur bingung. Menyajikan kesan pada laki-laki tersebut bahwa ia tengah kelelahan dan bingung mencari sang anak yang tidak ada di sekitarnya. Ia mengemukakan beberapa kata untuk membela diri pada suaminya.

“Ah, mama selalu saja kayak gitu. Gak pernah nyoba deket dan perhatiin adek. Sibuk dengan diri sendiri”, keras bernada marah.

Sampai kejadian pembentakan tersebut saya juga masih berstatus sebagai pengamat.

Akhirnya sang anak kembali dengan muka riang kegirangan, bersama sang mbak pembawa koper. Ia langsung menghampirkan langkah ke Ayahnya, bukan Ibunya. Ia sampaikan cerita bahagia yang barusan ia rasa.

Terus bagaimana dengan ibu sang anak yang duduk tepat di sampingnya? Maaf, mata saya sudah terlanjur kena sihir menyeksamai ketiga manusia yang tengah berbahagia, Ayah-Anak dan Mbak pembawa koper.

Dari belakang ketiganya sambil mengelus perut saya lirih berkata. “Nak, bantu bunda menjadi orangtua yang amanah atas keberadaanmu”.

Iya, amanah.

Amanah adalah segenggam predikat untuk yang mampu menjalankan tanggungjawab yang terbebankan. Ikhtiar untuk mengupaya menuntaskan fungsi dan tugas atas peranan. Amanah memang penilaian, tapi bukan legalitas nilai dari khalayak yang dinomorsatukan, dengan wujud tingginya puji dan sanjungan. Amanah memuarakan keikhlasan, menjalankan bhakti untuk dipersembahkan pada Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *