Menagih Janji Tuan Pimpinan

Wahai tuanku,
Perhatikanlah aku selaku rakyatmu,
Seorang hamba yang bergerak di bawah lindung sosok paduka,
Sebatang jasad yang memelas pinta pada penguasanya,
Aku meminta hati dan pikiranmu,
Takzimku untuk berani mengeluh padamu,
Ekonomi masih brutal menjadi musuhku.


Wahai tuan,
Jika miskin bukanlah parang,
Bolehkah aku sebut ia sebagai pedang?
Tidak tajam memang,
Tapi sungguh - sayatannya menyakitkan,
Meminta raga untuk ikhlas melepas nyawa,
Hanya karena tak ada harta sebagai penyambungnya.

Ya, hanya inilah keadilan yang dapat dijawab insan yang papa.


Tuan yang masih duduk manis di meja sana,
Yang gempar digunjing rakyat karna jas dan kemeja,
Aku tunjukkan padamu dengan riang muka,
Bagaimana tata etika,
Menempatkan rakyat pada negaranya.


Aku tidak sedang mengajarimu, tuan.
Aku hanya bermanja mengharap pengakuan,
Diakui sebagai rakyat yang harus disejahterakan,
Berharap tuan juga tersadarkan,
Bahwa kemiskinan yang kami rasakan,
Sudah lebih dari cukup untuk membuat mental ini semakin carut.


Tuan,
Lelah jika kami harus pura-pura pasrah,
Menunggu janjimu merubah bangsaku,
Mental yang digadangkan akan terevolusi,
Tapi lagi-lagi itu hanya ilusi,
Ilusi untuk mengagungkan harga diri.


Jika memberikan nasehat pada penguasa,
Masih menjadi hak wajib seorang rakyat dalam negaranya,
Maka, kuingatkan ikrar yang telah terkumandangkan,
Menempatkan rakyat dalam negara kesejahteraan,
Adalah sebuah hutang kepemimpinan.


Februari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *