Pergeseran Asumsi Ibu – Guru

 

Dulu saya berasumsi bahwa ibu terbaik adalah seorang berprofesi guru. Bagaimana tidak? Guru adalah ia yang tahu tata cara mendidik, ia pakar dalam memandu anak didiknya, pastinya juga akan mahir menuntun anak-anak dalam kehidupan rumah tangganya. Beberapa tingkat, skill dan nilai yang ia miliki di atas rerata orang pada umumnya, mereka punya ilmu, kompetensi bahkan sertifikasi. Jadi kadang saya menguatkan pikir, apakah saya harus kembali menempuh pendidikan keguruan? .

Tapi faktanya tidak selalu, di seberang sana. Pernah saya dapati seorang ibu dengan latar belakang sarjana teknik mesin yang begitu piawai mengasuh dan mendidik anaknya. Ada juga mereka yang berprofesi arsitek, sejarawan, wirausahawan, penjahit, hakim, peternak, pedagang, pengacara dan profesi lainnya yang juga sangar mumpuni mengemban predikat ‘istimewa’ sebagai ibu .

Tepatlah, ternyata ibu itu tugas dan tanggungjawab. Profesi yang melekat disertai naluri dan rasa memiliki. Ilmu dan nilai pelaksanaannya akan terupgrade bersamaan dengan prosesnya belajar. Menekuni, menyabari dan menikmati. Siapapun kita dan apapun latarbelakang kita berhak menjadi seorang ibu. Ibu dari siapapun yang membutuhkan sandaran kepercayaan dan peluk hangat penjagaan.

Maka kemudian asumsi saya mengalami pergeseran, tidak harus profesi guru untuk menjadi ibu tapi ibu pastilah seorang guru. Guru yang dalam akronim Jawa dimaksudkan kepada sosok yang dapat digugu dan ditiru (orang yang dipercaya dan diikuti), bukan hanya bertanggung jawab mengajar mata pelajaran yang menjadi tugasnya, melainkan lebih dari itu juga mendidik moral, etika, integritas, dan karakter.

Tanggung jawab total yang bukan hanya pada kelembagaan bernama sekolah, tapi pada kelembagaan amanah agung tanpa ada kata tamat sekolah, guru dunia dan akhirat .

Mari ibu di seluruh lapisan masyarakat, segala penjuru pintu peradaban, kita menyelam lebih dalam tentang tugas dan fungsi kita sebagai pendidik dan pengampu status sebagai ibu. Kita tingkatkan kepakaran dan profesionalitas sebagai ibu dengan menyusun kurikulum-kurikulum pendidikan terbaik bagi anak-anak kita. Pemegang impian dan masa depan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *