KORAN UNTUK SI UDIK

Seorang kawula yang udik, tinggal di daerah terpencil, jauh dari akses komunikasi dan informasi, tak ada Koran, tak ada TV. Yah, kalau kata orang-orang bijak adalah kawasan yang “jauh dari peradaban”….. menyangkakah kalian ketika orang seperti ini mendapat satu gelar tertinggi dari pendidikan? Bukan suatu kemustahilan, bukan suatu kejanggalan. Semua bisa terlebur dari semangat dan kerja keras yang penuh perjuangan.

“Terlahir dari keluarga yang buta huruf, dalam masyarakat miskin secara berjamaah. Sekolah dijalani dengan segala keterbatasan, bermodal mata dan telinga, malam sampai rumah langsung istirahat karena memang buku pelajaranpun tak ada yang dia miliki. Seperca Koran telah membawanya untuk membuka mata pada dunia, memang hanya para pejabat saja yang bisa membaca, karena Koran adalah barang yang langka di sana, di belukar Sumba. Ternyata ada kehebatan yang jauh dari daerahnya, banyak keindahan dan kehebatan di luar sana, dari sanalah seorang Kebamato kecil memiliki sebongkah semangat untuk belajar dan belajar. Jadi rajin membaca buku-buku paket di sekolah. Terbawa sampai semangat belajarnya hingga menamatkan pendidikan hingga SMA.

Prestasi melejit yang ditorehkannya selama ini, membawa dukungan dari para guru ke orang tua Kebamato untuk melanutkan penidikan anaknya sampai perguruan tinggi, karena prestasi yang diraihnya bukanlah asal-asalan. Diapun mealnjutkan pendidikan di Jakarta. UI. Dengan beasiswa pendidikan. Prestasi gemilangnya laksana sumber mata air yang tiada henti. Tidak berkurang justru semakin deras dan mengalir, membawa kebaikan bagi sesamanya. Belum lama ia kuliah di Jakarta sudah beredar berita di kampung halaman kalau Kebamato pulang ke kampung halaman dengan menggunakan Helikopter ditambah berita bahwa ia telah mampu menciptakan komputer sendiri, isu tersebut kian merebak hingga Kebamato merasa tertekan dan menjadi termotivasi untuk semakin berprestasi lebih. S1 diselesaikan dengan gemilang dan dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 di UI kembali. Dan untuk S3 nya ia bertekad untuk dtempuh di universitas Munchen, Jerman, dan terlaksana.
Berkat ketekunan yang luar biasa, dalam rentang waktu yang sangat singkat, 2.5 tahun, Kebamato sudah menuntaskan kuliahnya, dan berhak menyandang gelar doktor dengan predikat magna cumlaude pada tahun 2001. Dan diresmikan menjadi seorang doktor ilmu alam di Jerman, yang berhak mendapatkan titel Rer. Nat. di depan namanya. Rer. Nat.merupakan kepanjangan dari Rerrum Naturalium atau doctor of natural sxiences dalam bahasa Inggris.

Sekarang Kebamato menjadi dosen di FMIPA-UI, Jakarta dengan beragam prestasi yang mengagumkan serta mulai tahun 2004 Kebamato terjun langsung ke sekolah-sekolah di NTT, ia melatih para siswa tingkat SD sampai SMA tentang belajar pada umumnya dan fisika pada khususnya. Hingga anak latihnya mendapatkan prestasi yang gemilang pula. Hasil yang memuaskan, siswa SD yang dilatihnya memperoleh medali perunggu kategori matematika dan honorable mention untuk IPA dalam Olimpiade Sains Tingkat Nasional. Anak latihnya yang tingkat SMA berhasil merbut 1 perunggu, kemudian berhasil masuk ITB.

Nah, kapankah kita bisa meng-ATM-kan Kebamato? Amati, Tiru, Modifikasi…. Belajarlah untuk kesuksesan dan menyukseskan orang lain. ^^. Jadilah Kebamato selanjutnya!!

Muat di Buletin Mingguan Joco

April 2011

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *