Museum Tsunami Aceh Dualisme Rasa yang Tak Terbantahkan

ACEH – Untuk apa museum dibangun? Untuk mengabadikan, mengenang dan menjadikan pelajaran atas satu peristiwa, rangkaian kejadian dan momentum lampau yang tak pantas terlupakan. Namun museum satu ini punya fungsi lebih, didesain dengan sebagai tempat berlindung manakala peristiwa tersebut kembali terjadi, Tsunami. Betul, inilah Museum Tsunami Aceh.

Sejak 2008 museum ini dibuka untuk umum, jutaan pengunjung menjadikan tempat ini sebagai sarana edukasi dan refleksi diri. Desain museum yang megah, harmonis dan apik menjadikan museum tsunami foto-able.

Kita ulas satu-satu ya, di depan pintu gerbang masuk ada pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman, so far sih kalau masih pagian tidak terlampau mengganggu akses jalan kita. Hanya saja semakin siang semakin ramai dan itu cukup crowded dan menghalangi pengunjung yang ingin mengambil foto museum tampak depan secara keseluruhan. Tenang, perihal ini bisa disiasati, datanglah kemari untuk ambil gambar di sore jelang malam hari. Cahaya lampu jalan semakin menyempurnakan pandangan.

Lanjut ke loket ticketing ya, tiga orang akan menyambutmu dengan ramah. Sekiranya wajah kita terindikasi dari luar area Aceh mesti ditanyain ramah sama salah seorang petugas. “Dari mana, keperluan apa dan beberapa pertanyaan small talk lainnya”. Point penting yang mesti ingin diketahui adalah tentang harga tiket masuk, bukan? GRATIS. Pihak pemerintah Provinsi Aceh sama sekali tidak menerapkan tarif untuk seluruh pengunjung yang hadir. Pengalaman saya, karena saking antusiasnya langsung mengeluarkan dompet dan bilang, “Kami berlima, Pak. Jadi berapakah?”, penjaganya tersenyum dan bilang – gratis kak. Duh malunya, di depan loket padahal tertulis, ‘free entry’.

Oke, perjalanan kita mulai.

Lorong dan dinding air. Gelap, takzim dan khidmat, itulah kesan yang akan kita bangun untuk awal masuk di museum tsunami. Oleh sang arsitek kita diajak masuk ke nuansa peristiwa itu terjadi, bagaimana suara gemericik air di dalam lorong gelap sejauh 200 meteran dengan melintasi jembatan. Sunyi dan hening.

Balok video dokumenter

.Usai melewati lorong, kita akan diajak menyaksikan jajaran balok yang disusum zig zag dengan tayangan video dokumenter dan explanation tentang kejadian tsunami 2004 lalu di bagian atas balok, video tentang sebab kenapa bisa terjadi dan beberapa kisah kejadian lainnya.

 

Dinding sumur doa

Ruangan selanjutnya kita akan dibawa ke ‘Sumur Doa’, di ruangan ini nama-nama ribuan orang yang menjadi korban gempa tsunami diabadikan dalam dinding-dinding. Lantunan ayat suci al Quran senantiasa digemakan di ruang ini. Nuansa khidmat yang terkesan.

Jembatan Kedamaian

Keluar dari sumur doa kita akan melewati jalan berporos, menikung – keliling sampai di jembatan penghubung ke ruang display, galeri dan museum peninggalan tsunami dan seperangkat alat edukasi yang menjelaskan kenapa tsunami itu terjadi, before-after geografis Aceh sebelum kejadian tsunami dan sebagainya. Sangat syarat dengan unsur mendidik. Bersebelahan dengan ruang-ruang tersebut, ada studio mini berisikan video dokumenter durasi 20 menitan. Video yang mempresentasikan kondisi pasca tsunami, termasuk perubahan roda perekonomian dan peristiwa tsunami berlangsung serta keterlibatan dunia dalam bantuan berasaskan kemanusiaan.

Perpustakaan juga difasilitiasi di sana, hanya saja saat berkunjung ke sana bertepatan di hari libur dan perpustakaan libur. Maaf ya belum bisa mereview gamblang tentang perpustakaannya.

Inilah yang membuat spesial dan berdaya guna tinggi museum tsunami Aceh, di mana tidak hanya difungsikan sebagai bangunan untuk menyimpan sejarah semata, museum ini juga disetting dalam bentuk bangunan antisipasi perlindungan utama saat gempa tsunami kembali terjadi. Lantai paling atas bangunan dipersiapkan sebagai jalur evakuasi tsunami. Seperti perpustakaan, jalur evakuasi yang terhubung hingga ke lantai teratas ini ditutup dan dilarang melintas. Benar-benar dualisme rasa kebermanfaatan yang tidak terbantahkan. Mengedukasi muatan sejarah yang pertama, yang kedua menjadi tempat berlindung kejadian serupa di waktu selanjutnya.

Demikian yaa review singkat dari saya, semoga rekan-rekan berkesempatan juga untuk menjejakkan langkah di megahnya Museum Tsunami desainan Ridwan Kamil ini. Salam dari Aceh.

Erna – Bunda Yahya, 9 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *