Menyulam Rindu di Acehmu

“Kalau aku berangkat, berarti kita harus berpisah?”, tanyaku

“Iya, sementara waktu kita terpisah dulu”, jawabmu.

Bukan tentang kamu lebih kuat dan aku yang rapuh. Karena kita sama-sama rapuhnya, tapi kamu punya tanggungjawab untuk kuat hingga aku ikut menjadi kuat. Aku pun ikut menguat, karena kamu.

Sudah selesai ritual kita untuk saling menyalahkan. Ini konsekuensi logis atas pilihanku, atas ijinmu yang terlalu memberikan kebebasan padaku. Sudah, kita komitmen untuk menyudahi pertentangan ini.

Akupun berangkat, membangun rindu kita tersebab jarak, mengajarkan ia tentang perjuangan dan pengorbanan. Aku berangkat duluan.

***

Tersampailah kaki di serambi ini, hitungan pekan terasa berbulan dan tahunan. Kalian adalah musabab halal hadirnya kerinduan. Aku ingin semua segera tersatukan.

Hingga seduhan-seduhan kopi aceh menjadi teman menyulam kerinduan. Mengiringkan doa dan harap dalam setiap seduhan.

Lirihku pun kerap terselip kisah bersama kenang, “Besok pagi kita akan minum kopi di Meulaboh, atau kita akan syahid”, kata Teuku Umar. Dan pagi ini, teuku, kopimu telah mengisi ruang kosongku tanpa dia di Acehmu. .

Rindu

Aceh, 10 Maret 2018 | Bunda Yahya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *