ANAK NAKAL ATAU KENAKALAN ANAK?

Foto; Google

Wajar, jika setiap orangtua mendambakan anak yang berkarakter santun, sopan, patuh dan hormat pada yang lebih tua terutama orangtuanya. Bersikap sayang, perhatian, berbelas kasih dan tutur kata manis pada yang lebih muda. Orang menilai bahwa anak seperti inilah yang dikatakan sebagai anak yang berbhakti dan baik pekerti. Lebih sempurna kalau anak tersebut berprestasi dalam aspek akademik, tentulah orangtua teramat bangga menjadi orangtuanya. Sang anak dirasakan akan mampu ‘ngangkat dhuwur mendhem jero‘ (red : mengangkat tinggi dan mengubur dalam – jawa : berbakti).

Namun warnanya garis kehidupan bukanlah kita yang menentukan. Inginnya hijau memdapatnya merah, inginnya putih dikasihnya cokelat. Tidak dapat diprediksi apalagi dikendalikan semau diri. Sama halnya dengan harapan orangtua pada atas keseharian anak, atas hasil pola asuh serta pengasuhan keduanya. Anak yang diharapkan dapat santun dan berpekerti luhur, nyatanya hadir dengan sikap-sikap bandelnya. Sering nangis dan berontak kalau keinginannya tidak dituruti, diminta belajar ia enggan, dinasehati malah dilanggar dan bahkan bertindak usil diluar nalar dan permakluman. Emosi pastilah terpancing, bagaimana harus mengatur anak yang demikian. Langkah pertama yang harus kita mengerti adalah dengan jalur memahami. Memahami bahwa anak nakal itu berbeda dengan kenakalan anak. Anak nakal adalah anak yang berulah dibatas ambang batas kewajaran, ia melakukan tindakan di luar koridor wajar tingkah tindak anak-anak.

Sedangkan kenakalan anak adalah suatu kondisi yang normal, keadaan yang wajar, yang menyerta pada individu dalam rentang usia 0-18 tahun dan belum menikah. Kenakalan anak terwujud saat anak melakukan tindakan kenakalan sebagaimana umumnya anak seusia mereka. Untuk memudahkan dalam memahami perbedaan keduanya, contoh tingkah kenakalan anak adalah semisal merengek saat permintaannya tidak dituruti, bandel dinasehati, keinginan menang sendiri dan sebagainya. Sedangkan anak nakal contohnya anak yang sudah terlibat atau berpotensi terlibat tindakan kriminal sejenisnya. Langkah kedua adalah memberikan pendidikan, pengajaran dan pendampingan ekstra agar kenakalan anak yang berpotensi tumbuh dalam diri anak dapat terarahkan, tidak sampai ke tahap potensi hadirnya anak nakal. Dengan demikian, Ayah dan Bunda, adalah kurang tepat kalau kita dalam pengasuhan dengan mudah memberikan label atau penilaian anak nakal kepada anak yang sedikit susah diatur, padahal sikap-sikap ia yang demikian hanya bagian dari rangkaian kenakalan anak sebagai proses-proses ia belajar menuju kedewasaan dan kecerdasan personal. Mari belajar dan selamat menuju sempurna menjadi orangtua.

— Dipublikasikan juga di http://kampoengngawi.com/file.post.news/anak-nakal-atau-kenakalan-anak/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *