BERHENTI MENAWAR KEMATIAN, MENGEJA HIKMAT ISRA’ MI’RAJ

Desain: alif & sofia

Andaikan saja takdir kematian itu ‘sah’ untuk di tawar, tentu akan terang aku menawar pada Tuhan, meminta agar keduanya untuk diundurkan dulu kepulangannya. Barang sebentar saja, barang beberapa hari saja. Menunggu beberapa waktu hingga impian mereka dapat saya antarkan menjadi nyata. Pun jika meningggal, meninggalnya juga paripurna. Ah itu hanya pikiran saya semata. Tapi tidak demikian dengan skala aturan Tuhan. Bukankah seorang hamba tak akan dicabut nyawa, sampai benar-benar habis jatah nikmat untuknya? Allahumaghfirlaha – allahumaghfirlahu.

Bukankah isra’ mi’raj juga sebagai bentuk hadiah pelipur lara untuk Rasulullah yang kala itu ditinggal kedua orang tercintanya? Bulan duka cita. Yaa, pemaknaan isra’ mi’raj tampaknya tidak hanya  seremonial semata diperingati, tapi haruslah diilmui, diyakini dan diaplikasikan hikmat-hikmatnya. Mendalam sedihnya Rasul kala itu, tapi dalam perjalanan isra’ mi’raj bukan hanya kondisi pribadi yang dipikirkan, justru ummat, untuk ummatnya yang sholeh.

Allah sampaikan langsung sebuah salam keselamatan untuk Rasul “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh” —  Lapang, tegar dan mendalam Rasul membalas”Assalamu’alaina wa’ala ibadillahi sholihin”.

Semoga doa terbaik senantiasa membersamai mereka yang lebih dulu meninggalkan kita, karena mungkinlah mereka sudah dirindukan oleh pemilikNya. Semua titipan, hanya titipan. Sedih itu fitrah, seperti halnya Rasulullah Muhammad juga pernah sedih, namun tidak berlarut, tidak berlanjut.

Ern | Ngawi, 07 Mei 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *