PROFESI DAN AKSELERASI KEDEWASAAN

Foto: Google

Saya sampaikan di awal tulisan ini bahwa pekerja sosial bukanlah manusia langitan, bukan juga malaikat yang tanpa celah yang hanya berkapasitas untuk taat. Pekerja sosial profesional hanyalah manusia biasa, sebagaimana standar keumumannya, ia bakal bermasalah juga. Tentulah, setiap jiwa yang berharap akan punya masalah, ketimpangan antara harapan dan kenyataan, bukankah itu masalah.

Double Problem
______________

Selaku individu, ia memiliki masalah. Selaku seorang profesional ia memiliki tanggungjawab profesi, membantu individu/keluarga/masyarakat menyelesaikan masalah dan membantu mengembalikan keberfungsian sosial. Dua kondisi yang memang harus disikapi.

Namun atas keikhlasan ikrar profesi, mereka (para pekerja sosial profesional) ringan untuk memberikan kerja dan bhakti. Helping people to help them selves. Mereka sudah berada dalam kondisi keyakinan bulat, dalam menghadapi kondisi tersebut akan berlaku efek domino. Mereka membantu dan mereka akan dibantu. Mereka membantu menyelesaikan permasalahan sesama, mereka akan dibalas dengan hadirnya bantuan langsung oleh Tuhannya. Mereka percaya, penyelesaian masalah dengan campur tangan dan keajaiban  dari Tuhan sangatlah sempurna. Akan rampung dengan paripurna.

Akselerasi Kedewasaan
____________________

Fokus garapan pekerja sosial yang mencakup 3 (tiga) lini, mikro, mezo dan makro menuntut pendewasaan dini para pelakunya. Semisal dalam pelesaian kasus permasalahan anak berhadapan dengan hukum, yang sebenarnya ia bukan sebuah profesi berlatar hukum (maka kondisi ini membawa ia pada keberanian untuk belajar tentang hukum, pidana, perdata, peradilan, dan sebagainya). Menyelesaikan permasalahan klien korban KDRT, ia harus berjibaku dengan status keluarga, permasalahan yg dihadapi dala, keluarga, memfasilitasi pihak-pihak terkait untuk memutuskan perkara tentang keluarga sedangkan di lain sisi ia belum berkeluarga atau baru berkeluarga. Permasalahan rumit menangani pengemis, gelandangan, anak terlantar, korban penyalahgunaan napza, wanita rawan sosial ekonomi dan lain sejenisnya.

Keseluruhan garapan itu tidaklah serta merta dapat dijalankan pasca ia menamatkan pendidikan profesi selama kurun waktu 4 (empat) tahun. Skill, yang harus menyertai knowledge (pengetahuan) dan value (nilai) akan terupgrade di lapangan praktik nantinya. Di lapangan praktik itulah benturan-benturan kondisi akan menjadikan pekerja sosial dewasa. Ia dituntut keadaan untuk bisa menyelesaikan permasalahan, maka karena ikrar dan rasa tanggungjawab profesi itulah ia mengakselerasikan dirinya agar berkompetensi, berkapasitas militan dalam jenjang karir dan pengabdian.

Madiun, 15 Februari 2016 –
Erna Dwi Susanti, (Pekerja Sosial Rehabilitasi Sosial Napza)
Serial #AngkringanPeksos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *