MENINGGIKAN DERAJAT PENGEMIS

Foto: rayasoraya

“Memberi uang kepada pengemis itu bukan perilaku yang menolong, tidak mendidik dan bukan sebuah solusi penyelesaian masalah”

Well, so far saya sepakat dengan statement tersebut. Saya setuju dengan pendefinisian pola sikap dalam penyikapan masalah sosial. Di mana memberikan uang pada pengemis bukanlah sebuah langkah tepat untuk membantu mereka bangkit dari keterpurukan, mengentaskan mereka dari belenggu kemiskinan. Sekali lagi adalah benar, bahwa memberi uang pada pengemis bukan jawaban yang tepat. Seperti halnya yang dicontohkan oleh pemimpin ummat Islam, Muhammad SAW. Yang suatu ketika ada orang papa yang menghadap padanya. Berceritalah ia kalau tidak memiliki apa-apa. Ia minta rasa belas kasih dari Muhammad. Namun yang diberikan Rasulullah kala itu bukan sekeping dirham atau dinar, justru sebuah kapak.

“Wahai Rasulullah, apa gerangan yang engkau maksudkan?,” tanya bimbang sang papa. “Yang aku butuhkan uang uang untuk membelanjai keluargaku. Membelanjai anak pun istriku. Bukan seonggok kapak yang tak kuketahui apa yang akan kugunakan apa ini nantinya”, lanjutnya.

Rasulullah menegaskan padanya, mengisyaratkan sebuah ikhtiar untuk bekerja sampai ia mampu menafkahi keluarganya dengan jerih keringatnya.

Ya, adalah sebuah kapak itu untuknya berusaha, mencari kayu dan menjualnya hingga mendapatlah ia kepingan dirham untuk belanja. Simple point nya adalah kala itu Rasulullah menanamkan etos kerja pada sang papa, tidak memfasilitasinya hingga akhirnya ia terus menerus menjadi peminta. Rasulullah telah mengajarkan teori dan konsep pemberdayaan. (Mungkin ada kisah yang sama dengan beberapa perbedaan alur, silakan menyesuaikan dan menambahkan).

Kisah semacam tersebut kemudian juga diadop dalam konsep pengorganisasian – pengembangan masyarakat (community organization and community development), pemberdayaan masyarakat (empowerment) — dibuatlah konsepsi perlakuan, berikan ia kail bukan ikan, dan ajarkan ia cara membuat kail agar dapat lebih mandiri untuk mencari ikan, hingga ia produktif.

Bukankah beda dahulu dengan sekarang? Iya tentu beda. Tapi secara garis besar masih sama. Orang peminta-minta (pengemis) masih tetap ada bahkan meningkat jumlahnya. Rerata dijadikanlah mengemis atau meminta menjadi pekerjaan rutin dalam kesehariannya, setiap harinya.

Lantas bagaimana sikap kita seharusnya? Berlatar belakang profesi sebagai seorang pekerja sosial tentulah doktrin larangan memberi pada pengemis itu selalu coba untuk saya terapkan. Teman-teman yang sering bepergian dengan saya tak luput mendengar ceramah singkat dan protes langsung dari saya.

Dan keseringan pula jawaban yang saya dapatkan adalah sama, “Itukan sarana kita untuk ibadah”, “Kalau kita tidak memberikan uang pada mereka itu sama saja kita menutup pintu rejeki mereka yang memang dititipkan pada kita”, dan beberapa ketidaksepakatan mereka lainnya.

Baiklah gaes, tidak harus dengan berdebat masalah ini kita selesaikan. Kalau kita ingin berbagi, menyedekahkan sebagian rejeki yang kita miliki jaman sekarang sudah ada banyak sarana untuk menyalurkan. Insya Allah jaminan rejeki mereka tidak akan tertutup dengan tidak kita berikan uang pada mereka. Tuhan tidak menyukai dan tidak menghendaki ummatnya merendahkan harga diri yang memang sudah Dia tinggikan.

“Tapi apakah berlebih dan disalahkan kalau pemberian tersebut kita berikan sebagai bagian dari bentuk syukur. Semisal sekedar sebungkus nasi, toh kita sering keluar masuk tempat makan ‘mewah’, pelatihan-pelatihan di hotel berbintang, dengan fasilitas istimewa dan bahkan itu pakai uang negara. Yang mungkin saja, uang yang kita gunakan kala itu seharusnya diperuntukkan bagi mereka? Bukankah fakir miskin dan anak terlantar dalam amanat undang-undang harus dipelihara oleh negara?”.

Tidak, tidak berlebih kalau itu sekedar bentuk syukur atas nikmat yang teranugerahkan. Tapi lagi-lagi lakukan itu dengan cara yang tepat. Bukan sekedar memberi yang kita anggap itu solusi tapi ternyata justru menyalahi.

Mari kita tinggikan derajat pengemis, dengan tidak memberi kemudian merendahkan martabat mereka. Tinggikan derajat mereka sebagaimana Tuhan telah meninggikannya.

….. [to be continue]

Serial : Isu Rumah Bambu – Ern || Madura, 17 Januari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *