Go back
August 02, 2017

UNCONDITIONAL LOVE

[caption id="attachment_74" align="aligncenter" width="960"] senyum Foto: ern[/caption]

Tanpa syarat Bunda mencintaimu. Begitu juga tatapan matamu, yang telah lama mengutarakan bahwa kamu juga mencinta, tanpa memprasyaratkan apa-apa. Kamu dan Bunda sama-sama mencinta dan memang kita butuh cinta.

Anakku, tidaklah kita sebut ikatan ini ikatan yang terbangun di atas nilai transaksi. Bukan transaksional. Bunda mencintaimu karena hati ini telah tertuntun dan merasa wajib mencintaimu. Semacam fitrah, ia hadir dengan sendirinya. Hingga rangkaian penjagaan, pengasuhan dan pendidikan, merawat serta membesarkan itu secara paten terasa sebagai tugas Bunda. Naluri dan kesadaran itu (sekali lagi bunda sampaikan) hadir dengan sendirinya.

Pun juga denganmu, sekarang tengah menjadi objek penerima cinta Bunda, entah kapan waktunya mungkin kamulah, Nak, yang akan bergantian menjamu Bunda dengan cinta dalam penjagaan, pengasuhan dan perawatan.

Apa ini bentuk hutang-budi yang harus dilunasi? Tidak anakku, bukan. Ini bukan hutang budi. Namun kecintaan yang terbangun, diatas pondasi sayang yang pernah kita ikrarkan. Seperti dulu di sana, saat ruh kita pernah diperjumpakan dan ditetapkan bahwa kamu adalah anakku dan aku adalah Bundamu.

Ohya Nak, tetaplah terhubung dengan garis lingkungan kita berada. Kamu, mereka butuhkan dan mereka juga kamu butuhkan.

Dan Bunda akan mengijinkanmu Nak, menerima cinta dari perhatian dari oranglain yang juga mencintaimu tanpa syarat seperti Bunda.